Alkisah, pada suatu hari terjadilah pertemuan antara Sang Begawan Ki
Ageng Wiraswasta dengan Sang Satria Wirausaha. Pertemuan tesebut
dilakukan di suatu tempat yang sunyi dan dirahasiakan, karena Sang
Satria menginginkan pembicarakan itu betul-betul dapat memberikan
kejelasan tentang suatu hal yang selama ini mengganjal di benaknya.
SANG SATRIA : Wahai Sang Begawan yang bijaksana. Ku mohon berilah
penjelasan pada ku, makna apa sesungguhnya yang terkandung dalam
dunia kewirausahaan? Apakah "wirausaha" itu sebuah profesi, ataukah
ia sejenis ilmu pengetahuan? Atau hanya sebuah wacana tentang
semangat kehidupan?
SANG BEGAWAN: Sang Satria yang gagah perkasa. Memang sebenarnyalah
kewirausahaan itu dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Di satu
sisi kewirausahaan dapat dipandang sebagai sebuah profesi, di lain
sisi ia juga bisa dipandang sebagai sebuah wacana tentang semangat
kehidupan. Orang-orang terpelajar memasukkannya sebagai suatu bidang
keilmuan, dan bahkan sebagian orang tertentu menganggapnya sebagai
seni.
SANG SATRIA: Dapatkah engkau menjelaskannya satu per satu pada ku
wahai, Sang Begawan? Dari masing-masing sudut pandang itu, yang
manakah yang dapat dianggap paling bernilai?
SANG BEGAWAN: Pada tingkatan awam, kebanyakan orang menganggap
bahwa wirausaha itu semata-mata sebuah profesi. Oleh sebab itu,
kata "wirausahawan" menjadi sebuah istilah yang membedakan orang yang
menuntut penghidupan melalui usaha mandiri, terhadap mereka yang
bekerja dan digaji oleh orang lain. Kalau kita bicara dari sudut
nilai (value), maka sudut pandang ini adalah yang terendah nilainya.
Kenapa? Karena di sini kewirausahaan hanya dipandang sebagai sebuah
sarana untuk mempertahankan hidup (survival) dan mencari nafkah
semata. Sudah tentu sifatnya sangat egoistik, mementingkan diri
sendiri. Maklum, di taraf awal memang orang harus memikirkan
kelangsungan hidupnya sendiri lebih dahulu, bukan? Namun, pada
kebanyakan kasus, mereka yang sudah mapan secara ekonomi, tetap saja
berpandangan egoistik karena berpegang pada pengertian bahwa
wirausaha itu adalah sebuah profesi. Akhirnya, mereka tetap dalam
alur pikiran untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, yaitu kalau
kebutuhan hidup mereka pribadi sudah terpenuhi, maka pada gilirannya
mereka harus pula memenuhi kebutuhan sanak keluarganya, saudara-
saudara serta keturunannya mulai dari anak, cucu, cicit begitu
seterusnya sampai kalau mungkin, 7 turunan. Tentu engkau tahu
tentang hal ini dan banyak contohnya.
SANG SATRIA: Benar sang Begawan. Banyak sekali contohnya. Mereka
mengira dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, bersenang-
senang dan berhura-hura seanak-cucu, mereka telah menunjukkan kepada
umum sebuah prestasi besar, yang menurut mereka sudah sepantasnya
mendapat apresiasi dari masyarakat. Mereka ingin orang banyak tahu
bahwa mereka telah berhasil mencapai suatu keadaan yang seaman-
amannya dari bahaya kelaparan, kemiskinan dan kebangkrutan,
sebagaimana yang masih harus dihadapi oleh orang banyak itu sendiri.
Lalu bagaimana pula dengan sudut pandang yang menganggap wirausaha
sebagai ilmu?
SANG BEGAWAN: Mereka yang menganggap wirausaha sebagai ilmu,
sesungguhnya tidak berwirausaha. Mereka hanya menganalisa.
Kebanyakan ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, dimulai dari
sebuah analisis tentang suatu fenomena. Sesuatu tejadi lebih dahulu,
baru dipelajari lalu timbullah suatu ilmu pengetahuan baru. Semakin
lama, semakin banyak ilmu baru ditemukan. Ilmu ekonomi ditemukan
setelah orang mengenal ilmu matematika lebih dulu. Ilmu pengetahuan
tentang bisnis lebih baru lagi. Demikian juga dengan kewirausahaan.
Kalau kewirausahaan dibakukan menjadi sebuah ilmu, itu sah-sah saja.
Sayangnya, seperti juga ilmu-ilmu non eksakta lainnya, kewirausahaan
bersifat dinamis. Ia selalu berubah, teori tempo dulu dibantah oleh
teori hari ini. Teori hari ini dibantah lagi oleh teori esok hari
demikian seterusnya. Mempelajari ilmu kewirausahaan, sama saja
dengan mengejar bayangan. Itu juga yang terjadi dengan ilmu
manajemen. Pernahkah engkau mendengar tentang pakar manajemen yang
akhirnya kebingungan dengan karakter ilmu manajemen itu sendiri?
Seorang usahawan yang mempelajari kewirausahaan sebagaimana
mempelajari rumus-rumus matematika, akan menemui kekonyolan yang sia-
sia ketika menerapkannya di dunia bisnis yang nyata. Bagi seorang
wirausahawan, mempelajari teori-teori itu bagus. Tapi, ia tidak akan
terikat oleh sebuah teori pun, sepak terjangnya murni dan bebas.
Teori bisa saja ia pakai di satu saat, di lain waktu teori itu dia
modifikasi, dan pada kesempatan lain teori yang sama ia buang ke
tempat sampah untuk kemudian melakukan sepak terjang yang kontra-
teori. Bagi seorang wirausahawan sukses, apa yang telah diperbuatnya
di masa lalu, bisa saja dijadikan teori oleh orang lain. Padahal di
saat sekarang, ia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
apa yang telah dijadikan teori oleh orang lain. Dapatkah engkau
menangkap apa yang kusampaikan ini, wahai Sang Satria?
SANG SATRIA: Aku mengerti, Sang Begawan. Dan apa pula maknanya
jika ada usahawan-usahawan tertentu menganggap kewirausahaan itu
sebagai seni?
SANG BEGAWAN: Seni itu berintikan keindahan. Jarang sekali orang
yang dapat merasakan keindahan di kala ia sedang sengsara. Oleh
sebab itu, kebanyakan orang yang merasakan kewirausahaan itu sebagai
sebuah seni, adalah mereka yang telah sukses secara ekonomi. Mereka
merasakan keindahan saat mereka berhasil menyelesaikan suatu
pekerjaan besar. Lebih indah lagi sewaktu mereka menghitung uang
yang berkelimpahan setelah pekerjaan itu dibayar. Beberapa pengusaha
merasakan keindahan saat mereka berhasil membangun perusahaan-
perusahan baru, baik murni milik sendiri mau pun mencaplok perusahaan-
perusahaan milik orang lain. Namun, jangan salah! Tidak semua
begitu. Sebagian pengusaha ada juga yang merasakan keindahan saat
mereka ada dalam saat-saat kritis. Mereka bergairah di kala
perusahaannya ada dalam kesulitan, dikejar target, dijepit dead-line
dan lain-lain masalah. Mereka berjiwa petualang yang tidak suka
berdiam lama-lama dalam kondisi adem-ayem-tentrem. Mereka menyukai
tantangan, makin keras tantangannya makin gairahlah mereka.
SANG SATRIA: Jadi apakah sang Begawan hendak mengatakan bahwa
pengusaha-pengusaha jenis itulah yang memiliki nilai kewirausahaan
terbaik?
SANG BEGAWAN: Tidak juga. Mereka menikmati seni dan keindahan itu
adalah untuk diri mereka sendiri. Apa yang mereka rasakan hanya
mereka sendiri yang dapat menikmatinya. Orang lain tidak. Nah,
sepanjang sepak terjang berikut kesenangan dan kenikmatan yang
diperoleh seorang pengusaha itu masih ditujukan untuk kesenangan diri
sendiri, maka ia tidak bisa dikategorikan sebagai pengusaha yang
memiliki nilai kewirausahaan (entrepreneurship value) yang baik.
SANG SATRIA: Kalau demikian, tolong jelaskan sudut pandang seperti
apa yang bisa kita kategorikan sebagai sikap kewirausahaan yang
ideal, ya Sang Begawan?
SANG BEGAWAN: Baik Sang Satria. Menurutku, satu-satunya sudut
pandang yang perlu dimiliki oleh setiap orang yang berkecimpung di
dunia wirausaha, adalah sudut pandang kepemimpinan. Sudut pandang
yang melihat dunia kewirausahaan sebagai wahana kepemimpinan. Bukan
semata-mata wahana perebutan uang, harta benda serta simbol-simbol
kekayaan yang materialistis. Orang seperti ini akan memulai usahanya
dengan cakupan visi yang luas, bukan saja meliputi diri dan keluarga,
tapi juga masyarakat sekitar. Beberapa tokoh bisnis bahkan memulai
kiprahnya dengan visi kebangsaan, yang terpicu setelah melihat
kemiskinan dan kesengsaraan rakyat di masing-masing negerinya.
Faktor keunggulan dari wirausahawan seperti ini adalah jelas mereka
jauh dari sifat-sifat egoistik. Mereka bahkan mendahulukan
kepentingan orang lain katimbang kepentingan diri sendiri. Oleh
karenanya, merekalah yang pantas menyandang nilai-nilai kewirausahaan
tertinggi. Di dalam visi mereka otomatis sudah termasuk faktor
spirit, di mana untuk menjadi wirausahawan yang mengayomi banyak
orang, tentu diperlukan semangat kewirausahaan yang tinggi. Termasuk
pula unsur sikap mental atau attitude, integritas serta
proaktivitas. Seni dan keindahan bagi mereka adalah ketika melihat
para karyawan, pemasok, pelanggan serta masyarakat sekitar tersenyum
bahagia saat menikmati karyanya. Sampai di sini, adakah engkau dapat
memahami penjelasanku, wahai Satria?
SANG SATRIA: Benar, Sang Begawan. Aku mengerti. Penjelasanmu meski
panjang lebar, tapi cukup memberi pengertian pada ku. Aku ingin
mencerna itu semua selama beberapa waktu, oleh sebab itu mungkin
lebih baik pembicaraan ini kita hentikan dulu sampai di sini, sampai
lain waktu kita bertemu pula dalam diskusi lebih lanjut. Ku mohon
engkau tidak keberatan kalau lain kali kita dapat berjumpa lagi dalam
pembahasan tentang kewirausahaan.
SANG BEGAWAN: Dengan senang hati, Sang Satria. Kita dapat bertemu
lagi di sini di lain waktu.
SANG SATRIA: Terima kasih, Sang Begawan. Semoga Tuhan memberkati
umat manusia.
Sang Satria Wirausaha dan Sang Begawan Ki Ageng Wiraswasta berpisah
dan masing-masing pulang ke tempat kediamannya. Sang Begawan
melanjutkan meditasi, sedangkan Sang Satria berusaha untuk mencamkan
hasil pembicaraan itu jauh ke dalam lubuk sanubarinya..(rh)
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@...
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Friday, February 8, 2008
Sang Begawan Ki Ageng Wiraswasta
Yanto
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment